Senin, 02 Januari 2017

Wisata Budaya Tarian Tebe

Tebe

Merupakan tarian yang menggambarkan luapan kegembiraan atas suatu keberhasilan ataupun kemenangan dalam suatu pekerjaan. Terian ini terdiri dari beberapa orang penari laki-laki dan perempuan yang saling bergandengan membentuk lingkaran sambil menari dan bernyanyi bersahut-sahutan melantunkan syair-syair dan pantun sambil menghentakkan kaki sesuai irama lagu sebagai wujud luapan kegembiraan.
 
Tarian yang melibatkan banyak orang ini dulu biasanya dilakukan pada malam hari sebagai ungkapan rasa syukur atas terlaksananya suatu pekerjaan, misalnya panen, perkawinan, dan lain-lain. Namun dalam perkembangannya tarian ini akhirnya dapat dilakukan kapan saja, terutama siang hari, bilamana ada acara-acara hiburan atau menyambut para tamu.
 
 
Sumber: 
http://tourism.nttprov.go.id/objek/460-wisata_budaya_tarian_tebe

Wisata Budaya Tarian Likurai

Tari Likurai


Salah satu dari sekian kebudayaan daratan Belu adalah Tarian Likurai yang pernah memukau warga ibukota Jakarta di tahun 60-an. Tarian Likurai dahulunya merupakan tarian perang, yaitu tarian yang dibawakan ketika menyambut atau menyongsong para pahlawan yang pulang dalam perang. Konon, ketika para pahlawan yang pulang perang dengan membawa kepala musuh yang telah dipenggal (sebagai bukti keperkasaan), para feto (wanita) cantik atau gadis cantik terutama mereka yang berdarah bangsawan menjemput para pahlawan dengan membawakan tarian Likurai. Likurai itu sendiri dalam bahasa Tetun (suku yang ada di Belu) mempunyai arti menguasai bumi. Liku artinya menguasai, Rai artinya tanah atau bumi. Lambang tarian ini adalah wujud penghormatan kepada para pahlawan yang telah menguasai atau menaklukkan bumi, tanah air tercinta.
 
Tarian adat ini ditarikan oleh feto-feto dengan mempergunakan gendang-gendang kecil yang berbentuk lonjong dan terbuka salah satu sisinya dan dijepit di bawah ketiak sambil dipukul dengan irama gembira serta sambil menari dengan berlenggak-lenggok dan diikuti derap kaki yang cepat sebagai ekspresi kegembiraan dan kebanggaan menyambut kedatangan kembali para pahlawan dari medan perang. Mereka mengacung-acungkan pedang atau parang yang berhias perak. Sementara itu beberapa mane (laki-laki) menyanyikan pantun bersyair keberanian, memuja pahlawan.
 
Konon kepala musuh yang dipenggal itu dihina oleh para penari dengan menjatuhkannya ke tanah. Proses ini merupakan penghinaan resmi kepada musuh. Selain itu para pahlawan tadi diarak ke altar persembahan yang sering disebut Ksadan. Para tua adat telah menunggu di sini dan menjemput para pahlawan sambil mencatat kepala musuh yang dipenggal itu serta menuturkan secara panjang lebar tentang jumlah musuh yang telah ditaklukkan sampai terpenggal kepalanya diperdengarkan kepada khalayak ramai untuk membuktikan keperkasaan suku Tetun.
 
Pada masa kini, tarian tersebut hanya dipentaskan saat menerima tamu-tamu agung atau pada upacara besar atau acara-acara tertentu. Sebelum tarian ini dipentaskan, maka terlebih dahulu diadakan suatu upacara adat untuk menurunkan Likurai atau tambur-tambur itu dari tempat penyimpanannya.

Sumber : 
http://tourism.nttprov.go.id/objek/461-wisata_budaya_tarian_likurai

TENUN BELU

Etnis Belu 

Tenunan yang dikerjakan oleh wanita Belu termasuk jenis tenunan ikat, tenunan lotis/sotis dan buna. Tenunan Belu terdiri dari dua bagian besar yaitu : Tais Futus (tenun ikat bersulam) dan Tais Soru (kain Tenunan). 

Sejak dahulu ada perbedaan motif untuk pakaian sehari-hari dan pakaian pesta antara pria dan wanita. Pakaian sehari-hari untuk pria adalah kain tenun putih polos atau bergaris hitam putih tanpa rumbagi. Sedangkan untuk wanita memakai kain tenun berwarna hitam. Pakaian pesta bagi bangsawan adalah tenun ikat Tais lalawar dan untuk orang kebanyakan Tais Lolo Metan 

RAGAM MOTIF TENUNAN BELU TERBAGI ATAS dua bagian Yaitu : 
  • Motif kaum bangsawan 
  • Motif orang kebanyakan 

Dilihat dari jenis tenun, maka tenunan belu dikenal :
  1. Tais surolos (tenunan biasa putih polos) dan Tais nee latek (tenun hitam putih) 
  2. Tais futus (tenun ikat) 
  3. Tais foit (tenun cungkil)yang dibagi atas : 

  • Tais foit dadonan mesak (cungkil satu lidi) 
  • Tais fot Oa tonan rua (cungkil dua gigi) 
  • Tais foit Amarasi,dengan motif isin (mata tombak),toke,karau dikur (tanduk kerbau) 
  • Tais marobo, dengan motif sasuit (sisir) san asu mean (gigi anjing) 


Yang dimaksud dengan futus adalah tenunan yang mulanya dari ikatan (merakit gambar melalui ikatn pada benang maupun cungkilan) dan hasilnya dalam nentuk selendang. Selendang tais adalah tenunan (yang bisa juga digabung dengan hasil futus sehingga menjadi tenun ikat), atau langsung memnenun benang polos menjadi sarung. 

KELENGKAPAN/PERHIASAN PAKAIAN ADAT 
  1. Untuk wanita memakai sarung,selendang,giwang atau anting-anting dari emas atau perak, gelang tangan dari perak, manik-manik dari mika atau perunggu,tusuk konde dari emas atau perak, giring-giring dari perunggu,mata uang emas atau perak dan tempat sirih yang selalu dibawa. 
  2. Untuk laki-laki memakai selimut,selempang,ikat kepala atau destar, ikat pinggang dari kulit, pedang,gelang tangan dari perak dan tempat sirih yang dilengkapi rantai gantungan dari emas atau perak. 


Arti dan fungsi kelengkapan adat tersebut umumnya sama dengan daerah lain. 

sumber : http://tourism.nttprov.go.id/objek/494-tenun_belu

Kamis, 03 November 2016

Naitimu

Naitimu adalah nama sebuah desa yang terletak di Halilulik, Kecamatan Tasifeto barat, Kabupaten belu, Provinsi nusa tenggara timur, Indonesia.